Search

Tradisi Perang Pandan Kembali Digelar Di Bali

Tradisi Perang Pandan Kembali Digelar Di Bali

Bali memiliki beragam budaya dan tradisi yang unik selain tempat-tempat wisata wisata yang sudah terkenal di dunia. Ada satu tradisi yang unik yang diadakan setiap tahunnya di Desa Tenganan yang berada di Karangasem Bali yaitu Perang Pandan. Tahun ini akan berlangsung pada tanggal 7 – 8 Juni 2018. Tenganan terdiri dari dua dusun, yaitu Dauh Tukad dan Pegringsingan.

Sebelum Perang Pandan dimulai, ada beberapa prosesi yang harus dilakukan oleh masyarakat Tenganan yaitu dengan mempersiapkan persembahan pada pagi hari, kemudian pergi ke pura masing-masing untuk mendoakan agar acara tersebut dapat berjalan dengan lancar. Tradisi ini dilakukan oleh para pemuda dengan berpakaian adat Bali dan bertelanjang dada, diawali dengan melakukan ritual mengelilingi desa sebanyak dua kali meminta perlindungan dan keselamatan agar acara yang diselenggarakan ini sukses.

Ritual ini diikuti oleh berbagai usia dan tidak ada batasan usia, mulai dari anak-anak yang berusia 10 tahun hingga orang tua yang berumur 65 tahun bergantian turun ke arena untuk melakukan Perang Pandan. Perang tersebut dilakukan satu lawan satu dengan saling memukul menggunakan seikat daun pandan. Ritual Perang Pandan memilih pandan berduri sebagai alat perang karena sifat duri pandan yang yang baik dan sederhana. Jika melukai lawan dalam Perang Pandan, mereka tidak akan mengalami luka serius.

Ritual Perang Pandan yang juga biasa disebut dengan Mekare-kare tersebut merupakan sebagai wujud penghormatan kepada Dewa Indra yang menjadi keyakinan masyarakat Tenganan sebagai Dewa Perang dan semua ritualnya mengacu pada perang. Seorang dewa yang diutus memerangi Raja Maya Denawa yang berlagak seperti dewa di Desa Tenganan. Tradisi ini dilakukan sebagai peringatan untuk Dewa Indra yang sudah perang dan menang pada waktu itu.

Perang Pandan diiringi dengan musik gamelan Seloding. Seloding adalah alat musik tradisional di daerah Tenganan yang hanya dimainkan oleh orang yang disucikan. Alat musik ini juga tidak sembarangan dimainkan, hanya boleh dimainkan pada acara tertentu saja. Alat tersebut memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggar, yaitu tidak boleh menyentuh tanah.

Tradisi ini merupakan rangkaian keagamaan yang dilakukan ketika upacara Sasih Sembah digelar. Upacara Sasih Sembah merupakan upacara terbesar yang diselenggarakan hanya sekali dalam setahun. Sedangkan ritual Perang Pandan atau Mekare-kare dihelat selama dua hari mulai pukul 2 sore di halaman balai Desa Tenganan.

Semua peserta bergantian berperang di arena berlangsung sekitar 3 jam. Selesai prosesi, luka yang dialami oleh para peserta kemudian diobati dengan obat-obatan tradisional. Setelah Perang Pandan usai pun tidak ada dendam dalam hati masing-masing peserta, semua berjalan kembali seperti biasanya.