Search

Tradisi Kirab Grebeg Besar Idul Adha Di Keraton Yogyakarta

Tradisi Kirab Grebeg Besar Idul Adha Di Keraton Yogyakarta

Hari raya Idul Adha merupakan salah satu hari raya umat Islam yang identik dengan qurban dan haji. Akan tetapi bukan hanya perayaan Idul Adha saja, banyak tradisi dan budaya di Indonesia dalam menyambut Idul Adha. Salah satunya yaitu Grebeg Besar yang diadakan oleh Keraton Yogyakarta setiap tahunnya setelah pelaksanaan sholat eid.

Grebeg Besar merupakan salah satu upacara kerajaan dan hingga sekarang masih dilestarikan oleh Keraton Yogyakarta. Di dalam upacara grebeg terdapat unsur-unsur kebudayaan seperti religi, bahasa dan adat istiadat. Upacara ini diadakan untuk menyambut hari raya Idul Adha yang juga jatuh pada bulan besar. Bulan besar merupakan bulan ke 12 dalam urutan kalender Jawa. Untuk penyelenggaraan Grebeg Besar tahun 2017 ini akan diadakan pada hari raya Idul Adha tanggal 01 September 2017.

Grebeg Besar biasanya diadakan sekitar pukul 08.00 WIB setelah sholat Idul Adha yang diawali dengan keluarnya iringan pasukan Keraton Yogyakarta yang terdiri dari prajurit Wirobrojo, Ketanggung, Bugis, Daeng, Patangpuluh, dan Nyutro. Mereka menggunakan seragam dan atribut beraneka warna. Di belakang pasukan Keraton, selanjutnya terdapat iring-iringan gunungan besar Idul Adha. Gunungan tersebut didoakan untuk kemudian dibagikan kepada warga sekitar yang dipercayai mengandung berkah.

Gunungan dalam Grebeg Besar ini terdiri dari lima jenis, yaitu Gunungan Kakung (Laki-laki), Gunungan Putri (Perempuan), Gunungan Gepak, Gunungan Dharat dan Gunung Pawuhan. Iring-iringan tersebut keluar dari keraton Yogyakarta, melewati Siti Hinggil, Pagelaran, dan menuju alun-alun utara untuk kemudian dengan tujuan Masjid Gede Kauman. Gunungan merupakan wujud sedekah penguasa Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat untuk rakyat berisi hasil bumi dan aneka jajanan dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha.

Diantara lima gunungan tersebut, akan dikirimkan satu gunungan ke Pura Pakualaman dan satu gunungan lainnya di kirim ke Kepatihan Danurejan. Untuk sisa dari gunungan yang lainnya dikirimkan ke Masjid Gede Kauman.

Acara Grebeg Besar dan pembagian isi gunungan menjadi daya tarik tersendiri bagi para warga setempat dan wisatawan, sehingga mereka rela untuk berdesak-desakan dan berebut untuk mengambil isi gunungan. Sebagian masyarakat setempat masih percaya jika mereka mendapatkan isi dari gunungan tersebut maka mereka akan mendapatkan berkah dalam kehidupannya.

Acara grebeg dan gunungan merupakan simbol rasa syukur Keraton atas berkat yang didapatkan dari Tuhan. Kemudian berkembang menjadi acara tahunan Keraton Yogyakarta setiap 1 Muharam, Idul Fitri dan Idul Adha.