Search

Menelusuri Jejak Sejarah Kereta Api Di Indonesia

Menelusuri Jejak Sejarah Kereta Api Di Indonesia

Kereta api merupakan salah satu moda transortasi yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Kereta api bukan hanya alternatif pilihan transportasi yang murah, tetapi juga bebas dari kemacetan jalan raya. Namun demikian tak banyak orang yang tahu tentang sejarah kereta api di Indonesia.

Sejarah perkereta apian di Indonesia diawali pada tahun 1864, di mana pemerintah Hindia Belanda Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pertama kali membangun jalur kereta api dari Kemijen (Semarang) menuju Desa Tanggung (Grobogan) sepanjang 26 km dengan lebar sepur 1433 mm. Ruas jalan ini dibangun untuk umum pada tanggal 10 Agustus 1867. Pembukaan jalur ini menjadikan Indonesia sebagai negara kedua di Asia yang memiliki jalan kereta api setelah India. Pada pembangunan jalur kereta api ini muncul banyak kesulitan baik secara finansial maupun bencana yang menimpa para pekerja sehingga pemerintah Belanda terjun langsung mendirikan perusahaan Staats Spoorwagen (SS) pada tahun 1869.

Kemudian dibangun jalur rel kereta api Surabaya – Pasuruan, sepanjang 115 km yang diresmikan pada 16 Mei 1878. Panjang jalur rel kereta api berkembang semakin pesat dari 115 km menjadi 3.338 km pada tahun 1900. Selain di Jawa, pembangunan rel kereta api juga dilakukan di Aceh pada tahun 1874, Sumatera Utara tahun 1886, Sumatera Barat tahun 1891, Sumatera Selatan tahun 1914, bahkan tahun 1922 di Sulawesi juga dibangun rel kereta api sepanjang 47 km, jalur kereta api Makassar – Takalar.

Jalur-jalur rel kereta api di Indonesia pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1943 dibongkar sepanjang 473 km. Sedangkan jalur kereta api yang dibangun oleh Jepang sepanjang 83 km jalur Bayah – Cikara, dan jalur Muaro – Pekanbaru sepanjang 220 km. Sampai pada tahun 1939 panjang jalan kereta api di Indonesia mencapai 6.811 km, namun pada tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km, kurang lebih 901 km rel kereta api hilang dibongkar semasa kedudukan Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, karyawan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kereta api dari kedudukan Jepang dan menegaskan sejak tanggal 28 September 1945 kereta api berada di tangan Indonesia. Hal inilah yang melandasi tanggal 28 September sebagai Hari Kereta Api Indonesia.

Jejak-jejak sejarah kereta api Indonesia pada masa penjajahan Belanda masih bisa anda lihat melalui stasiun-stasiun tua yang dibangun sejak jaman Belanda yang masih berfungsi sampai sekarang. Diantaranya Stasiun Tawang, Stasiun Semarang, Stasiun Tugu Yogyakarta, Stasiun Ambarawa dan masih banyak stasiun kereta api yang lainnya.