Search

Makna Lampion Pada Upacara Waisak

Makna Lampion Pada Upacara Waisak

Perayaan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur menjadi tujuan wisata baik domestik maupun mancanegara. Meski umat Budha sedang mengadakan upacara keagamaan, wisatawan tetap dapat mengunjungi Candi Borobudur.

Terdapat satu rangkaian acara yang paling ditunggu-tunggu dan menjadi tujuan utama para wisatawan dan jurnalistik untuk mengabadikan serta menikmati moment tersebut yaitu pelepasan lampion.

Prosesi pelepasan lampion biasanya dilakukan pada puncak perayaan Waisak atau bisa disebut Festival Lampion. Sebagian orang merasa penasaran dengan pelepasan lampion yang merupakan salah satu bagian dari prosesi upacara Waisak. Moment ini menjadi pengalaman yang sangat menarik bagi para wisatawan.

Bagi umat Budha, api diartikan sebagai semangat dalam diri manusia yang menjalani kehidupan dan mengharapkan petunjuk. Maka dari itu api menjadi unsur penting dalam perayaan Waisak. Pelepasan lampion menjadi simbol yang sakral untuk melepaskan hal-hal yang bersifat negatif di dalam diri setiap umat Budha. Setiap lampion yang diterbangkan berisi harapan dan doa bagi setiap umat Budha dan menjadi simbol harapan yang lebih baik dalam menjalani kehidupan.

Pendar cahaya dari lampion memiliki filosofi tersendiri, nyala lampion menjadi simbol pengharapan bahwa di tahun yang akan datang diwarnai dengan keberuntungan, kesehatan dan kebahagiaan dalam hidup. Pelepasan lampion didampingi oleh pihak teknis, agar tidak ada lampion yang bertabrakan saat lampion dilepaskan di udara.

Makna pelepasan lampion adalah pemanjatan doa-doa yang dipanjatkan para umat untuk dirinya, keluarganya bahkan untuk negara. Pelepasan lampion tersebut bukan sebagai ajang main-main belaka. Karena masih dalam bagian upacara ritual Waisak.

Pelepasan lampion dijadwalkan akan diadakan pada hari Selasa 29 Mei 2018 pukul 21.00 WIB. Pastikan berangkat lebih awal untuk menghindari agar tidak terjebak dalam kemacetan yang panjang. Setiap wisatawan dapat mengikuti pelepasan lampion dengan membayar tiket dengan harga tertentu. Selain itu bagi para wisatawan yang berkunjung diharapkan untuk tetap menjaga ketenangan selama acara berlangsung karena bukan hanya sebagai tontonan semata. Tetapi juga sebuah upacara ritual keagamaan umat Budha.

Upacara pelepasan lampion ini dilakukan setiap tahun selama bulan purnama di bulan Mei, Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Siddharta Gautama yang dikenal dengan Tri Suci Waisak. Acara pertama adalah kelahiran Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 SM. Kemudian pencerahan (nirvana) dimana Pangeran Siddharta menjadi Buddha di Bodhgaya pada usia 35 tahun dan yang ketiga adalah kematian (Parinirvana) dari Buddha Gautama di Kusinara pada usia 80 tahun.