Search

Legenda Putri Mandalika Dalam Festival Bau Nyale Lombok

Legenda Putri Mandalika Dalam Festival Bau Nyale Lombok

Masyarakat Lombok kembali menggelar festival tahunan Bau Nyale, yang akan diselenggarakan mulai tanggal 20 Februari hingga 6 Maret 2018 di Pantai Kuta, Lombok.

Festival Bau Nyale merupakan upacara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Lombok Tengah untuk mencari nyale atau cacing laut. Bau Nyale merupakan tradisi turun temurun, dalam tradisi ini ribuan orang menangkap cacing laut di sepanjang pantai Pulau Lombok.  Mereka percaya jika cacing laut tersebut merupakan jelmaan dari Putri Mandalika. Mandalika dikenal sebagai seorang putri yang cantik yang memilih untuk menceburkan diri ke laut lepas demi untuk menghindari peperangan antar pangeran yang memperebutkan dirinya. Legenda Putri Mandalika ini dikenal hampir di seluruh Pulau Lombok.

Putri Mandalika adalah putri dari pasangan Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting. Raja Tonjang Baru terkenal karena kebijaksanaannya sehingga rakyatnya sangat mencintai raja tersebut. Hingga menginjak usia dewasa Putri Mandalika menjelma menjadi sosok gadis yang cantik jelita. Karena kecantikan yang dimilikinya tersebut banyak pangeran yang berasal dari kerajaan-kerajaan dari penjuru daerah ingin mempersuntingnya. Putri Mandalika bingung untuk menentukan pilihan, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menceburkan diri ke laut.

Dari cerita tersebut kemudian masyarakat Lombok percaya bahwa nyale atau cacing laut adalah jelmaan rambut Putri Mandalika. Sebagai pelepas rindu dan untuk mengenang Putri Mandalika, masyarakat Lombok melakukan upacara tradisional untuk mengumpulkan nyale. Cacing laut atau nyale ini hanya muncul satu tahun sekali dan di tempat-tempat tertentu seperti di sekitar Pantai Kuta dan Pantai Siger.

Mereka meyakini jika nyale yang keluar tersebut berhubungan dengan kesejahteraan dan keselamatan. Mereka juga percaya jika nyale dapat menyuburkan tanah agar hasil panen memuaskan. Jika banyak cacing yang keluar dari laut, mereka percaya bahwa hasil pertanian juga akan berhasil. Cacing laut yang sudah ditangkap tersebut biasanya akan ditaburkan di sawah, bahkan ada yang mengolahnya menjadi makanan.

Setiap tahunnya masyarakat Lombok Tengah melakukan ritual Bau Nyale untuk memanggil cacing-cacing laut. Penentuan waktu pelaksanaan Bau Nyale pun cukup unik. Ritual Bau Nyale dilakukan oleh para tetua dan tokoh masyarakat setempat. Upacara tradisional Bau Nyale dilaksanakan pada hari ke 20 setelah bulan purnama ke 10 menurut kalender Suku Sasak. Tahun 2018 ini Festival Bau Nyale jatuh pada tanggal 20 Februari 2018.

Selain memanggil cacing-cacing di laut, Festival Bau Nyale juga dimeriahkan dengan berbagai lomba seperti Bekayaq, Cilokaq, Peresean, Begambus, Berbalas Pantun, dan Lomba Mendayung Perahu. Selain lomba-lomba tersebut, Festival Bau Nyale juga menampilkan pertunjukan kesenian seperti wayang kulit, penginang robek, dan teater legenda putri nyale.

Tertarik dengan festival tahunan Bau Nyale? Segera siapkan tiket penerbangan anda ke Lombok untuk mengikuti Festival Bau Nyale 2018.